Menang Tanpa Ngasorake

Pada salah satu survey di kalangan pengusaha kerajinan beberapa waktu lalu, saya mendapati banyak jawaban yang senada ketika ditanyakan siapa kompetitor perajin yang menjadi responden.  Kira-kira jawabannya: “Tidak punya kompetitor!!”.

Kejadian serupa juga terjadi ketika pertanyaan yang sama disampaikan ke manajemen PT. Tunas Baru Lampung Tbk., yang merasa berada di bisnis yang tanpa persaingan berarti.  Produk minyak goreng nabati dan turunannya punya pasar sangat besar di luar dan dalam negeri.  Industri pengolahan kelapa sawit sekarang ini sedang dimanjakan dengan pasar berlimpah dengan semakin maraknya penggunaan untuk industri bakar bakar alternatif, makanan dan kosmetik. Berapapaun jumlah produksi, akan siap ‘dilahap’ pasar.

Dalam kompetisi bisnis pada umumnya di tahun 2007 yang dipenuhi semangat optimisme, bisa jadi juga akan terjadi situasi serupa pada berbagai industri karena pasar bertumbuh lebih besar dari pertumbuhan kapasitas pasokan.  Bisa jadi perusahaan cukup ‘ikut arus’ pertumbuhan dan tidak perlu repot-repot menyiapkan strategi bersaing.

Berlomba ngapain?

Bisa dipahami kalau manajemen PT Tunas Baru Lampung Tbk. atau berbagai perusahaan lain pada umumnya akan berada pada situasi bisnis tanpa persaingan berarti, karena perebutan pasarnya memang tidak begitu sengit.  Kalaupun sampai kehilangan pelanggan, perusahaan relatif mudah mendapatkan penggantinya.  Bahkan bisa jadi calon pelanggan sudah ngantri.

Kalau situasinya sudah seperti ini, apakah masih diperlukan strategi bersaing?  Bukankah perusahaan tidak perlu terlalu risau kehilangan konsumen?  Pada situasi seperti ini, akan lebih baik bila perusahaan menentukan sasaran kompetitor baru.  Karena kalau sampai perusahaan merasa tidak perlu berkompetisi, maka jalan menuju ’surga’ sudah mendekat.

Dalam konteks PT Tunas Baru Lampung Tbk, manajemen tetap ingin menciptakan keunggulan dengan memberikan servis lebih baik pada pelanggannya.  Mengapa?  Karena perusahaan harus juga berkompetisi dan menang pada ‘dirinya sendiri’.

Dan bila yang menjadi kompetitor utama adalah diri sendiri, maka makin bermaknalah rumusan kata-kata bijak “Menang tanpa ngasorake“.  Perusahaan tentunya ridak perlu “merendahkan” dirinya sendiri, meskipun makna kata-kata bijak tersebut pada filosofi kompetisi lebih diarahkan ke sikap kita pada kompetitor yaitu “Tidak perlu merendahkan kompetitor yang dikalahkan”.  Prinsip ini sejalan dengan filosofi kompetisi “7n1″ Strategy yaitu “….tidak perlu dipermasalahkan bila kompetitor terus maju, asalkan kita jauh lebih maju…”.

Terdapat beberapa bentuk aplikatif dari prinsip “Menang tanpa ngasorake” pada kompetisi bisnis, yaitu:

1.            Tidak ada kemenangan mutlak

Pada pertandingan tinju dikenal kemenangan “Knock Out” yang mutlak, serupa dengan “checkmate” atau ’skak mate’ di catur.  Sementara pada kompetisi bisnis, kemenangan bersifat relatif, tergantung sudut pandang dan parameternya.  Perusahaan yang sudah beroperasi 12 tahun dengan market share 30 persen belum tentu lebih ’sehat’ dibandingkan perusahaan yang baru beroperasi 3 tahun yang punya market share 5 persen.  Karenanya perusahaan yang sudah dinilai leading, tidak perlu menganggap rendah kompetitornya.

2.            Masih ada kompetitor lain

Menang dibanding kompetitor tertentu tidak berarti menang pada semua kompetitor, sehingga perusahaan tidak perlu memandang rendah kompetitor tertentu yang dikalahkannya.  Bahkan kalau perusahaan sudah menang pada semua perusahaan yang ada di industri tertentu, bisa jadi masih ada kompetitor potensial yang sedang ‘mengintip’ bersiap masuk arena kompetisi.

3.            Berkompetisi dengan sejarah

Keberhasilan bersaing perusahaan atau produk tidak hanya melalui pembandingan dengan perusahaan atau produk lain, tetapi juga dengan catatan terbaik diri sendiri di masa sebelumnya.  Sikap serupa juga diberlakukan ketika perusahaan atau produk tidak punya kompetitor di industri sejenis di pasar.  Pada situasi ‘monopoli’ tersebut, benchmark yang dijadikan tolak ukur keberhasilan berkompetisi adalah ’sejarah’ masa lalu yang terbaik.

4.            Harus terus tumbuh

Agar perusahaan tidak cepat berpuas diri sehingga bisa menjaga keunggulan bersaingnya dalam waktu lama, maka harus terus digelorakan keinginan bertumbuh yang berkelanjutan.

Cara pandang pada kompetisi bisa “outside-in” tetapi bisa juga “inside-out”.  Perusahaan bisa memformulasikan strategi bersaingnya dengan ‘memompa’ semangat konkurensi dan ‘iri’ pada keberhasilan kompetitor.  Sikap ‘tidak mau kalah’ akan menjadi ‘obat perangsang’ pemicu semangat berkompetisi.

Sebaliknya perusahaan bisa juga tidak terlalu ‘panas hati’ dengan perilaku kompetitornya yang terkadang suka ‘ngegodain’. Dan kalaupun kita ‘agak tergoda’ dan ikutan ‘panas’, hati harus tetap dingin.  Salah satu caranya melalui penerapan prinsip “Menang tanpa ngasorake“.

Post Diposting Oleh admin pada 25.04.08 5:27 pm

Leave a Reply