Category
- Marketing (1)
- Competiveness (1)
- Strategy (2)
- Branding (1)
- Marketing Communication (1)
- test (1)
Recent Post
Top Posts
- Cuci Tangan (3282)
- Memagut Kompetitor (2706)
- 7n1 Strategy (2533)
- Lentur (2431)
- TETAP SEGAR (1490)
Lentur
Ada dua barang dan satu hal bernyawa yang bisa mewakili makna lentur, yaitu: tongkat galah, shockbreaker dan pebalet. Ketiganya punya unsur tangguh, tidak mudah patah, tidak kaku dan ‘penuh enerji’.
Tongkat galah mampu melontarkan pelompat galah sampai lebih dari lima meter. Tongkat galah bisa dilengkungkan tanpa kuatir patah, dan semakin melengkung akan semakin punya tenaga. Demikian juga shockbreaker ‘tidak bosan-bosannya’ mendapat tekanan dan tetap kembali ke posisi awal. Tidak hanya shockbreakernya yang bergerak, tetapi juga mampu mengangkat ‘pantat’ pengendara motor.
Sementara kalau menikmati pertunjukan balet profesional, kita akan mendapat suguhan kelincahan pebalet menterjemahkan musik lewat tarian. Tentu saja hiburan utamanya bukan menikmati wajah atau penampilan fisik pebalet, tetapi memperhatikan kelenturan tubuhnya. Meliuk mengikuti irama musik, menekukkan badan sampai seperti siput, dan dalam hitungan detik langsung melompat tinggi sambil berlari kian kemari.
Tanpa latihan yang intensif, seseorang yang coba-coba ingin mempraktekkan kelenturan pebalet malah bisa celaka. Kalau tetap nekad, bisa jadi yang dipertontonkan bukan kelenturan tubuh, tetapi malah jadi ajang pameran tulang yang ‘mreteli’ keseleo atau patah.
Seperti pebalet, tongkat galah atau shochbreaker yang lentur, maka seorang pemasar tangguh juga haruslah seseorang yang punya daya lentur tinggi. Bagaimana caranya menjadi pemasar seperti seorang pebalet yang lentur? Apa maksudnya menjadi pemasar yang punya daya lentur?
Ada yang mendefinisikan pemasaran sebagai proses sosial dan manajerial yang dilalui seseorang atau sekelompok orang untuk mendapatkan apa yang diinginkan dan dibutuhkannya, dengan cara menghasilkan atau bertukar produk dan nilai dengan pihak lain. Ada juga yang mengatakan bahwa pemasaran adalah filosofi bisnis untuk “membuat apa yang bisa kita jual”. Pendapat lain mengatakan bahwa pemasaran adalah proses perencanaan dan melaksanakan konsep harga, promosi dan distribusi terhadap barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan konsumen serta mencapai tujuan perusahaan.
Berangkat dari berbagai pengertian pemasaran yang berbeda-beda di atas, maka tidak heran jika tidak ada “satu” definisi pemasar yang bisa diterima dan memuaskan semua kalangan. Saya akan mengartikan “pemasar” dari unsur pembentuk katanya. Pemasar bisa diterjemahkan bebas sebagai orang yang memasarkan. Bisa jadi yang dipasarkan adalah barang, jasa, ide, daerah wisata, kesempatan investasi atau malah sang pemasar itu sendiri. Ada pemasar yang memasarkan sesuatu yang bernilai jual komersial, ada juga yang bernilai sosial.
Tentu saja dalam memasarkan sesuatu tadi, seorang pemasar perlu melakukan persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan koreksi secara obyektif; baik secara sendiri-sendiri maupun bersama rekan pemasar lain dan bahkan rekan kerja lain di organisasi sendiri maupun organisasi lain.
Situasi unik seperti ini membuat para pemasar bisa berinteraksi positif dengan personil di organisasi lain yang bahkan bisa jadi berada di perusahaan lain yang menjadi kompetitornya. Dibutuhkan pemasar yang tidak hanya punya kompetensi teknis tetapi juga soft competence atau kepribadian yang luwes. Seorang pemasar professional tidak boleh kalah lentur dibandingkan tongkat galah, shockbreaker atau pebalet. Pemasar perlu punya kelenturan sekaligus etika dan etos kerja unggul.
Pemasar tidak sama dengan penjual. Ada beberapa karakterisitik serupa antara penjual dan pemasar, hanya saja karena tuntutan teknisnya berbeda maka diperlukan ‘modal dasar’ yang berbeda. Berbeda dengan pemasar, seorang penjual perlu punya kegigihan untuk ‘menge-golkan’ niatnya dalam rangka membuat konsumennya mau ‘merogoh kocek’ dan membeli.
Seseorang bisa saja punya tugas ganda sekaligus sebagai penjual dan pemasar. Dalam kerangka “7n1″ Competition Objective kedua profesi tadi -sebagai penjual dan pemasar- punya kewajiban sama yaitu meraih sales, market share, awareness, image, satisfaction, loyalty, stakeholder value dan growth. Hanya saja komposisi bobot target kerjanya berbeda.
Seorang penjual punya perhatian dan bobot indikator pada sales, market share dan stakeholder value melalui profit yang lebih tinggi. Sementara itu pemasar punya konsentrasi pekerjaan yang lebih condong ke pembentukan awareness, image dan customer loyalty.
Kembali ‘ke laptop’ bahasan menjadi seorang pemasar yang berdaya lentur, diperlukan beberapa hard and soft competencies yang diramu dalam Marketer Competency berikut:
1. Kemampuan melakukan riset pasar dan menganalisa temuan riset
2. Kemampuan memahami pasar dan memetakan konsumen
3. Kemampuan memahami kompetitor dan memetakan kompetisi
4. Kemampuan memahami proses distribusi dan merancang program distribusi
5. Kemampuan berkomunikasi dan memanfaatkan media komunikasi pemasaran
6. Kemampuan merancang strategi kompetisi
7. Sikap proaktif, beretika dan percaya diri
8. Daya lentur
Daya lentur sebagai karakterisitik seorang pemasar bisa diimplementiasikan dalam beragam bentuk. Ketika seorang pemasar berperan merancang program komunikasi pemasaran misalnya, kelenturan ditunjukkan dengan mengakomodasi berbagai kepentingan seperti aspek efektivitas dan efisiensi serta mengintegrasikan keyakinannya akan bauran komunikasi pemasaran yang paling ideal untuk kondisi tertentu. Dalam situasi seperti ini, pemasar yang punya daya lentur tidak perlu menjadi seseorang yang argumentatif dan kalau perlu ‘bawel’ mempertahankan pendiriannya. Pemasar harus bisa memperagakan pemahaman pasar dan kompetisi sebagai alat berargumen. Daya lentur pemasar juga mengandung makna bahwa seorang pemasar haruslah punya sikap percaya diri yang memadai atas dasar gambaran peta pasar, kompetisi dan jalur distribusi. Dalam hal ini, pemasar perlu bersehati dengan para panjual untuk ditempa dan menunjukkan sikap tidak mudah menyerah.
Bagaimana caranya menjadi pemasar yang lentur? Belajar, berlatih dan terus mempraktekkan diri merupakan cara efektif untuk menjadi pemasar profesional yang lentur. Keberhasilan bisnis jaman sekarang memang membutuhkan pemasar-pemasar lentur.
Wordpress support
Leave a Reply