GROW AS A TEA TREE

Kalau lagi menuju lokasi  training center Indofood di Cibodas, di sepanjang jalan di area Puncak kita akan menikmati pemandangan pohon teh Gunung Mas yang hijau, sejuk dan menyegarkan.  Tentu karena ada pertumbuhan di sana.  Pertumbuhan belum tentu menghasilkan pohon teh yang lebih tinggi, apalagi pohon teh terus dijaga produktivitasnya dengan memangkas pucuknya secara periodik.

Teh punya siklus tumbuh yang meliputi penanaman, pemupukan, penyiangan dan pemetikan yang terus berulang dari waktu ke waktu.  Daun teh  dipetik bergiliran dengan pola yang ditata dengan baik, sehingga tidak hanya menghasilkan pertumbuhan teh yang optimal dengan produktivitas tinggi tetapi juga penampilan area perkebunan teh yang enak dipandang.

Meskipun penampilan kebuh teh yang enak dipandang merupakan hal penting, tetapi bukanlah indikator satu-satunya keberhasilan pengelolaan kebun teh.  Bahkan bukanlah indikator terpenting.  Ada kalanya penampilan kebun teh ‘dikorbankan’ ketika dilakukan proses penanaman ulang teh, khususnya ketika kebun teh diremajakan dengan membongkar pohon teh yang sudah tidak produktif.

Ilustrasi kebun teh tersebut bisa juga digunakan untuk membangun analogi pengelolaan bisnis.  Terdapat siklus tumbuh bisnis yang perlu terus dijaga secara berkesinambungan.  Ada kalanya penampilan bisnis perlu kelihatan ‘hijau’, tetapi tidak apa juga sesekali tampak ‘gundul’ asalkan ada siklus tumbuh yang berkelanjutan.

Dalam kerangka The 5 Arrows of Growing Cycle, kelima tahapan arah tumbuh bisnis terdiri dari: 1) Understanding, 2) Formulating, 3) Going Forward, 4) Accelerating dan 5) Optimizing.  Dengan prinsip dan keyakinan bahwa setiap perusahaan selalu punya keinginan bertumbuh, maka strategi pertumbuhan bisa disesuaikan dengan posisi perusahaan atau produk dalam siklus pertumbuhannya.

Strategi tumbuh untuk perusahaan yang dalam tahapan ‘baru jalan’ atau going forward tentu saja berbeda dengan yang lagi ‘tancap gas’ accelerating, demikian juga untuk yang lagi melakukan konsolidasi di tahapan optimizing.  Memang posisi di tahapan growing cycle tersebut perlu dikombinasi dengan kondisi lingkungan bisnis atau business atmosphere.  Sekaligus faktor posisi di tahapan growing cycle juga merupakan faktor yang menentukan, dan tidak bisa ‘hanya’ mengandalkan aspek business atmosphere.  Karenanya kalau ada ‘tukang nujum strategi’ yang dengan ‘pedenya’ meyakinkan adanya satu strategi “tokcer” di business atmosphere yang sedang ‘semilir’ sekarang ini, tentulah dia ahli nujum strategi yang menyesatkan.

Pemilihan strategi tumbuh yang berbeda-beda bisa diilustrasikan dengan situasi balap mobil formula I yang sedang berada di tikungan trek balapan.  Untuk pembalap yang ada di posisi paling depan, langkah yang relatif ‘paling aman’ adalah melakukan optimasi tenaga dari mobil yang masih melaju kencang tanpa memaksakan diri tancap gas, dengan harapan begitu lewat tikungan bisa langsung tancap gas.  Sementara bagi pembalap yang sedang membuntuti di belakangnya, situasi relatif berbahaya di tikungan justru bisa dimanfaatkan untuk ‘adu nasib’ dan tancap gas sebisa mungkin untuk mengambil alih posisi pimpinan balapan.

Tea Growth Inspiration

Pertumbuhan teh membutuhkan setidaknya bibit teh, air, sinar matahari, pupuk dan pemeliharaan.  Dengan ilustrasi pertumbuhan tanaman teh, bisa dikembangkan analogi pengembangan bisnis.

Dalam kehidupan bisnis, bibit teh bisa dianalogikan dengan ide cikal bakal bisnis dari pendiri perusahaan.  Dalam perkembangannya, ide cikal bakal pendirian perusahaan semestinya diteruskan dan kalau perlu disempurnakan oleh para pemegang saham pengendali perusahaan.

“Air” bisa dimaknai sebagai aliran uang kas atau cash flow.  Tidak mungkin ada pertumbuhan bisnis tanpa ada aliran kas.  Tidak heran salah satu pertimbangan bagi bank untuk mengevaluasi permohonan kredit adalah menganalisa aliran kasnya.  Cash flow tidak hanya sekedar menjadi tanda adanya pertumbuhan, tetapi sekaligus sumber atau modal pertumbuhan.  Tidak ada pertumbuhan tanpa air.

“Sinar matahari” pada pertumbuhan teh untuk mendorong terjadinya fotosintesis agar zat hijau daun atau chlorophyl berubah menjadi enerji tumbuh, serta sekaligus mendorong terjadinya fermentasi alamiah sehingga daun teh mengalami ‘pematangan’ sampai kondisi siap dipanen.  Perusahaan juga perlu ‘sinar matahari’ untuk “menghangatkan” gairah organisasi.  Kalau kondisi perusahaan ‘adem-ayem’ bisa jadi kinerja perusahaan hanya tumbuh relatif datar.

“Pupuk” pada penanaman teh pada dasarnya merupakan akselerator terjadinya pertumbuhan.  Dalam pengelolaan bisnis, ‘pupuk’ bisa dianalogikan sebagai pinjaman bank atau penempatan saham publik, yang akan memberi percepatan pertumbuhan perusahaan.

“Pemeliharaan” tanaman teh dibutuhkan agar teh tetap segar dan tidak terganggu ulat atau hama lainnya. Kalau dianalogikan dengan pengelolaan perusahaan, inspirasi “pengelolaan” bisa diterjemahkan sebagai langkah terus menyegarkan organisasi melalui pelatihan atau pengembangan motivasi kerja sehingga ‘penampilan’ perusahaan tetap awet muda meskipun personilnya sudah banyak yang senior.

Dalam pengelolaan organisasi perusahaan, juga diperlukan aliran ide dan motivasi kreativitas untuk menghasilkan inovasi produk dan layanan baru.  Inovasi akan membuat perusahaan selalu punya sesuatu yang baru untuk ditumbuhkan.  Untuk memacu inovasi, perlu dilakukan pengembangan budaya kerja sehingga terjadi pergerakan menuju keseimbangan baru yang mempertemukan generasi baru dan generasi senior yang menghasilkan nilai tambah dari sinergi serta sekaligus saling kontrol.

Hanya saja jangan juga dilupakan, bahwa pertumbuhan tanaman teh pada dasarnya menghasilkan daun teh yang berasa ‘sepet’.  Ada konsumen yang tidak begitu suka dengan rasa ‘sepet’ teh.  Rasa sepet perlu dikombinasi dengan ramuan lain agar menghasilkan teh sesuai selera konsumen untuk menjadi minuman teh yang menyegarkan.  Demikian pula pertumbuhan perusahaan seringkali menghasilkan ‘rasa sepet’ buat sekelompok orang di perusahaan.  Tentu saja perusahaan tidak boleh berhenti berprestasi gara-gara ada personil perusahaan yang merasakan sepetnya pertumbuhan perusahaan.  Personil seperti ini perlu disinergikan dengan personil lain yang merasakan pertumbuhan perusahaan punya rasa ‘manis’, sehingga kesemuanya menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan bisnis seperti juga pertumbuhan teh.