No Black No White

Tidak ada hitam yang benar-benar hitam.  Tidak ada putih yang benar-benar putih.  Yang ada adalah cenderung hitam atau cenderung putih.

Tahun 2010 sudah dua bulan berlalu.  Ada perusahan yang sudah mencatat transaksi penjualan hebat dan bisa untuk hidup sepanjang 2010, tetapi ada juga yang belum mencatat transaksi penjualan baru dan hanya melanjutkan hidup dari sisa order tahun lalu.

Demikian pula setelah dua bulan berlalu, ternyata situasi ekonomi tidak sama persis dengan prediksi yang dibuat akhir tahun lalu.  Ada prediksi yang terbukti benar, tetapi ada juga yang tidak tepat. Tidak ada yang pasti.  Tidak ada hitam yang benar-benar hitam, tidak ada putih yang benar-benar putih.  Dan sampai kapanpun situasi “No black, no white” seperti ini akan terus berlangsung.

Dalam pengelolaan bisnis, pengambilan keputusan merupakan keseharian.  Seringkali informasi yang diterima oleh pengambil keputusan adalah informasi yang tidak terang benderang.  Ada prediksi, ada keyakinan, ada masukan, ada pengalaman, ada rekomendasi yang bisa jadi masih “abu-abu”.  Tetapi meskipun situasinya ‘abu-abu’ atau “no black no white at all”, keputusan bisnis yang diambil tidak boleh abu-abu.  Keputusan harus jelas menuju hitam atau putih.  Keputusan boleh cenderung hitam, boleh juga cenderung putih tetapi keputusan tidak boleh abu-abu.

Untuk membuat keputusan yang ‘tidak abu-abu’, diperlukan understanding yang lengkap dan mendalam atas situasi dan posisi.  Dan kalaupun latar belakang masalah sudah ‘terang-benderang’, tetap saja bukan jaminan bahwa keputusan yang diambil akan selalu tepat.  Keputusan yang tepat adalah keputusan terbaik pada saat diputuskan.  Kepemimpinan menjadi kunci utama dalam pengambilan keputusan.

Kita semua tentunya sudah memahami situasi lingkungan bisnis masing-masing di tahun 2010.  Kita juga sudah menyadari posisi perusahaan atau produk kita dalam kompetisi bisnis saat ini.  Karena sudah melampaui bulan kedua 2010, kita tentunya juga sudah menyusun strategi dan program tahun ini.

Terpenting sekarang adalah melaksanakan strategi dan program kerja ke depan.  Bagaimana semestinya kita melangkah maju atau going forward di 2010?  Terdapat beberapa prasyarat dan target capaian yang sekaligus bisa menjadi langkah-langkah melangkah ke depan ‘going forward’ untuk mencapai sasaran 2010, yaitu:

1.         Willingness

Keberanian membuat keputusan, entah cenderung hitam atau putih, diawali dengan adanya kemauan, kehendak dan hasrat untuk melakukan sesuatu khususnya dalam mengambil keputusan.  Kalau kegamangan atau ‘keabu-abuan’ sudah hadir kuat di tahap awal ini, maka keputusan yang akan dihasilkan juga akan mengarah pada keputusan yang abu-abu.

2.         Competence

Pengambilan keputusan juga akan sangat dipengaruhi oleh kompetensi personil, baik yang menjadi pengambil keputusan maupun personil yang nanti akan diberi tanggung jawab untuk melaksanakan keputusan.  Tanpa ada kompetensi personil yang memadai, maka kualitas keputusan juga akan memprihatinkan.

3.         Creative Environment

Karena tidak ada keputusan hitam yang benar-benar hitam atau putih yang benar-benar putih, maka tersedia varian keputusan yang jumlahnya tidak terbatas.  Ada hitam atau putih yang 90%, 99% dan bahkan 99,9999%.  Karenanya diperlukan lingkungan pengambilan keputusan yang kreatif.  Perlu dibuka wawasan dan opsi alternatif keputusan yang seluas-luasnya untuk kemudian segera disimpulkan menjadi sebuah keputusan.

Pada banyak kasus sering ditemui terlalu banyaknya alternatif keputusan yang membuat keputusan menjadi semakin berlarut-larut.  Sesungguhnya pada situasi seperti ini bukan banyaknya alternatif keputusan yang layak dijadikan ‘kambing hitam’ untuk disalahkan, tetapi kepemimpinan untuk mengambil keputusan yang justru dibutuhkan.  Dan jangan lupa keputusan yang akan diambil tidaklah ekstrim hitam atau putih.  No black, no white.

4.         Team Motivation

Keragu-raguan pemimpin untuk mengambil keputusan yang berakibat dihasilkannya keputusan yang abu-abu seringkali juga disebabkan oleh keberadaan tim yang ‘lemes’, apatis dan tidak punya semangat bertarung.  Kegamangan pengambilan keputusan bisa terjadi karena tidak yakin keputusan yang diambil akan bisa dilaksanakan.

Memang tidak ada pemimpin yang baik tanpa anak buah yang baik.  Bahkan pemimpin hebat yang sudah teruji di banyak organisasi bisa jadi akan menjadi pemimpin yang tidak efektif ketika memimpin organisasi yang ‘payah deh’.  Pada situasi seperti ini perlu diciptakan dulu situasi yang kondusif untuk pengambilan keputusan, meskipun bisa jadi hanya bersifat ad hoc saat akan diambil keputusan.

5.         Progressive Leader

Keputusan merupakan produk dari seorang pemimpin.  Kalaupun ada tim yang diajak bersama-sama memberi masukan dan mengambil keputusan, pada dasarnya keputusan adalah produk dari pemimpin.  Setidaknya produk dari pemimpin rapat dari tim yang saat itu rapat untuk mengambil keputusan.  Tidak heran kita seringkali melihat tim yang sama bisa jadi mengambil keputusan yang kualitasnya berbeda ketika pimpinan rapatnya dirotasi.  Keputusan memang produk dari seorang pemimpin.

Perlu juga digaris-bawahi bahwa keputusan adalah produk dari seorang pemimpin. Tidak ada keputusan dari pemimpin ganda.  Hanya ada satu matahari.  Boleh saja ada banyak planet besar dan bulan pengiring, tetapi matahari hanya ada satu.  Keberadaan lebih dari satu orang yang ‘mengaku’ sebagai pemimpin akan membuat keputusan menjadi mengambang atau malah menghasilkan keputusan yang “black AND white” karena adanya dua keputusan yang saling bertolak belakang dari masing-masing pemimpin.

Karena keputusan merupakan produk dari pemimpin, maka kualitas pemimpin akan sangat mempengaruhi kualitas keputusan.  Diperlukan pemimpin yang progresif, yang mampu meneropong melihat ke masa depan, sehingga hal-hal yang diprediksi akan terjadi di masa depan sudah terantipasi lebih dini.   Dan jangan lupa, keputusan hari ini akan diimplementasi di hari esok sehingga dibutuhkan pandangan progresif ke masa depan.

Kalau kelima prasyarat di atas sudah terpenuhi, maka pengambilan keputusan semestinya menjadi lebih efektif.  Kalaupun masih ada prasyarat yang belum terpenuhi, tentu jawabnya kembali ke point no 5 bahwa keputusan merupakan produk dari seorang pemimpin.  Seorang pemimpin tetaplah seorang pemimpin.  Pemimpin boleh mengambil keputusan yang cenderung hitam atau cenderung putih tetapi bukan keputusan yang abu-abu.  Keputusan tidak harus hitam yang benar-benar hitam atau putih yang benar-benar putih.  NO BLACK, NO WHITE.  Silahkan mengambil keputusan terbaik.