Ketika menuliskan artikel ini saya ada dalam perjalanan bermobil dari Jakarta menuju Bandung untuk memimpin acara kewirausahaan bagi para guru, dosen dan pembina kewirausahaan nasional di Kampus UPI. Mobil yang kami kendarai terhenti di km 84 lebih dari satu jam. Ada kecelakaan sekitar satu kilometer di depan kami.

Karena macet total tidak bisa bergerak, banyak kendaraan yang mematikan mesinnya. Ada yang resah, ada yang malah bercengkerama di jalanan sambil mengihirup udara malam yang sejuk. Ada Om di sebelah saya menggumam "sayang nggak ada warung Indomie ya". Ternyata di saat suka dan susah, penggemar setia Indomie masih mengingat mi yang ada di top of mind-nya.

Perjalanan sejauh satu kilometer yang ditempuh lebih dari satu jam tentulah perjalanan yang melelahkan bagi yang sudah lelah atau terburu-buru ingin mencapai tujuan. Ada juga yang 'menyesali' dan berucap: "Wah kalau kita berangkat lebih cepat dua menit pasti sudah ada di depan tabrakan sehingga tidak terjebak macet". Ada juga yang berujar "Kalau tadi kita lebih ngebut tentu tidak kena macet". Semuanya ada betulnya.

Saya sendiri tidak terlalu hirau dengan macet di jalan tol tadi karena selagi macet sedang menerima wawancara per telepon dengan salah satu koran bisnis nasional dan lalu berlanjut dengan menulis artikel ini.

Lalu apa relevansinya 'curhatan' di atas dengan judul artikel yang sudah sempat saya pikirkan sebelum kena macet? Jujur saja, nggak ada hubungannya.  Kebetulan saja ketika saya bermaksud mulai menulis artikel sedang berada di kondisi jalan macet.

Tetapi supaya pembaca tidak sia-sia membaca beberapa artikel di atas, saya coba mencari keterkaitannya.  Dan memang kalau mau dicari-cari pasti bisa ditemukan hubungannya.

Global or Local?

Istilah "being local" mengingatkan kita pada konsep "think globally, act locally" yang awalnya dikenal di kalangan perusahaan Jepang dan kemudian merambah ke Amerika Serikat lalu mendunia.  Kalau "think globally, act locally" bernuansa open market economy yang pro liberalisasi dan globalisasi; sementara "being local" cenderung bernada "closed market economy" yang cenderung inward looking dan bernuansa self survelience yang mengupayakan kemandirian.

Sesungguhnya sampai hari ini belum ada bukti mutlak bahwa globalisasi dan liberalisasi yang oleh penganutnya dipuji meningkatkan efisiensi melalui market mechanism dipastikan bisa menghasilkan "sesuatu" yang lebih baik dari 'being locally'. Bukti sebaliknya sedang terjadi saat ini ketika negara-negara penganut aliran liberal seperti Amerika dan Eropa malah terpuruk.

Penganjur globalisasi dan liberalisasi murni seringkali begitu yakin bahwa keterbukaan pasar merupakan 'jalur cepat' mencapai peningkatan pertumbuhan ekonomi. Dalam berbagai perundingan free trade area, negara yang lebih liberal seringkali mengiming-imingi negara mitra negosiasinya dengan percepatan kemajuan perekonomian bila bersedia membuka pasar lebih lebar atau meliberalisasi ekonominya.

Tidak heran banyak negara yang relatif belum cukup maju 'doyan banget' dengan iming-iming percepatan pertumbuhan ekonomi, apalagi kalau diberi 'embel-embel' janji bantuan kredit, atau 'janji sorga' rencana investasi bernilai besar.

Apa yang kemudian sering terjadi? Pasar yang menjadi lebih terbuka dengan tingkat tarif bea masuk lebih rendah membuat negara yang baru bergabung dengan era free trade area kebanjiran produk impor dan perilaku konsumennya menjadi 'dream globally, forgeted locally'. 

Bagaimana dengan janji bantuan kredit? Kredit dari negara lebih maju sering direalisasi untuk membiayai impor barang dan jasa dari negara donatur yang lebih liberal, yang pada gilirannya akan menambah beban negara bersangkutan di kemudian hari. Janji sorga investasi besar banyak yang tidak kunjung terealisasi dengan alasan adanya hambatan perijinan, ketidakstabilan politik, dinamika perburuhan dan segudang alasan lainnya. Dan mudah-mudahan bukan itu yang sekarang sedang terjadi di Indonesia.

Lalu bagaimana semestinya pengelola negara dan perusahaan bersikap? Dalam pandangan saya, 'lebih ngebut' melalui liberalisasi tidaklah selalu menghasilkan "sesuatu" yang lebih baik.  Bisa jadi di jangka pendek tercapai pertumbuhan bisnis dan ekonomi lebih besar, tetapi "sesuatu" kinerja dalam pembangunan perekonomian tidaklah hanya pertumbuhan.

Dengan 'menjustifikasi' kejadian macet yang barusan kami alami tadi, bisa jadi mobil kami yang berjalan lebih ngebut ada di posisi depan lokasi tabrakan dan tidak perlu bermacet ria. Tetapi bisa juga terjadi, kami malah ada di deretan kendaraan yang mengalami musibah tadi sehingga tujuan perjalanan tidak kunjung tercapai. Kondisi serupa sekarang sedang terjadi negara-negara Eropa Timur dan sekitar Eropa yang ikut 'terseret' krisis karena ingin mempercepat pertumbuhan ekonominya agar bisa mengejar ketertinggalan dari negara Eropa Barat yang ternyata gagal mempertahankan kedigdayaan ekonominya.

Pro Lokal 

Setelah merancang konsep "Gemar Produk Indonesia" yang ditandai penandatangan kesepakatan Ketua Umum KADIN, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan dan Menteri KUKM yang langsung direspon oleh Presiden Yudhoyono dengan mencanangkan Gerakan Nasional Gemar Produk Indonesia pada 7 Agustus 2006, saya konsisten melanjutkan sikap "being locally" melalui kampanye Gemari Buah Lokal, pemberdayaan wirausaha lokal dan beragam "lokal" lainnya. Dan yang terjadi kemudian, ada kalanya saya 'distempel' anti globalisasi dan pro lokal. 

Pada Rakornas KADIN Gabungan Bidang Investasi, Perdagangan dan Hubungan Internasional 2013 beberapa hari lalu diangkat tema "Memberdayakan Investor dan Produk Lokal untuk Menjadi Pemain Utama di Pasar Global".  Banyak yang menyela dan berujar "Mungkinkah?".  Ada juga narasumber utama yang merasa istilah "Lokal" tidak tepat sehingga menyarankan mengganti dengan kata "Indonesia", yang pengertiannya memang sama. Hanya saja ada 'sentimen' istimewa yang termaktub di istilah "lokal". Sebagai Ketua Panitia Rakernas, saya hanya 'mesam-mesem' dengan komentar tersebut. 

"Lokal" punya makna sentimentil yang bernuansa "bukan global". Ketika bersama teman-teman IPB mempromosikan "Gemari Buah Lokal", sempat juga ada niat mengganti istilahnya dengan "Gemari Buah Indonesia", tetapi kemudian kembali menjadi "buah lokal" agar kampanye terasa lebih seksi.

Tentu saja saya tidak bermaksud mengajak pembaca untuk anti globalisasi, karena saya sendiri juga bukan 'gerombolan' anti globalisasi. Think Globally tidak seharusnya dipertentangkan dengan Think and Act Locally. Akan sangat tergantung posisi dan kondisi masing-masing negara. Bagi Indonesia, di saat ini, think and act locally yang berwujud dengan "being locally" dibutuhkan untuk menguatkan negara Indonesia menghadapi kompetisi dan perang global secara ekonomi dan politik.

Presiden Yudhoyono dalam pertemuan dengan pengurus KADIN di Istana Bogor beberapa waktu lalu merespon rekomendasi untuk tidak perlu ngotot menanam kedelai karena negara kita tidak punya comparative advantage dibandingkan negara-negara lain yang lebih cocok untuk bertanam kedelai. Menurut Presiden, kita perlu tetap menanam dan mengupayakan swasembada kedelai karena urusan kedelai tidak hanya terkait dengan efisiensi ekonomi tetapi juga menjaga ketersediaan pasokan buat tempe dan tahu yang merupakan harkat hidup orang banyak. Saya mendukung pandangan Presiden Yudhoyono tersebut, karena itulah salah satu contoh nyata esensi Being Locally.

Being Locally mengedepankan kebanggaan pada negara sendiri, mendorong swasembada yang pada gilirannya akan menghasilkan peningkatan kapasitas produksi yang bisa digunakan untuk mengisi kebutuhan pasar internasional. Itulah yang mendasari filosofi Being Locally tidak bertentangan dengan globalisasi.

AEC

Penyiapan diri menjadi Being Locally sangat mendesak dilakukan mengingat negara kita akan semakin terikat dengan kesepakatan-kesepakatan free trade dan terutama Asean Economic Community.

Apa jadinya kalau di 2015 kelak, yang sudah tidak lama lagi, banyak pedagang dari Singapore atau Thailand yang membuka kios produk mereka di emperan jalan di Glodok atau Pasar Baru?  Kita akan menjadi semakin satu dengan masyarakat dunia, dan di saat yang sama kita perlu terus menjaga 'ke-lokal-an kita yang Indonesia.

Ketika beberapa minggu lalu meninjau pantai moderen Qingdao, sekitar satu jam penerbangan dari Beijing, saya dikagetkan dengan cerita teman-teman serombongan bahwa ada kios disitu sedang mempromosikan Indomie.  Tersirat rasa bangga ketika teman saya tadi menyampaikan informasi salah satu simbol kesuksesan perusahaan Indonesia tampil disana.  Kemudian salah satu rekan berujar: "Tapi yang jualan bukan orang Indonesia". Kalau seandainya produk kebanggaan Indonesia tadi ditampilkan dan diperdagangkan secara penuh oleh SPG dan gerai ritel punya orang Indonesia tentu akan lebih optimal hasilnya karena sekaligus mempromosikan Indonesia.  

Hanya saja harapan-harapan seperti itu tidak mudah direalisasikan di China karena ada ketentuan-ketentuan yang membatasi. Karena pemerintah dan masyarakat China ingin tetap menjaga sikap dan perilaku Being Locally China.

Being Locally bisa diwujudkan melalui pemikiran, sikap dan perilaku nyata bagi masyarakat, perusahaan dan pemerintah. Being Locally bukanlah keinginan untuk menutup diri. Being Locally tidak anti globalisasi. Being Locally mengedepankan optimalisasi potensi lokal untuk sebesar-besar kesejahteraan lokal dan berkontribusi pada kesejahteraan dunia.


Jakarta, November 2013

Dr. Handito Joewono

Chief Strategy Contultant ARRBEY

handito.indonesia@gmail.com
www.arrbey.com