Anda ingin kaya? Tentu Anda perlu kerja keras, karena di jaman sekarang yang kompetisinya ekstra keras memang semakin banyak orang yang ingin menjadi kaya. Tampaknya menjadi kaya menjadi idaman kebanyakan orang di seantero bumi.  Di kalangan generasi muda yang semakin ‘matrek’, kekayaan menjadi ukuran yang semakin penting,  bahkan untuk mendapat pacar ‘cakep’ juga semakin dibutuhkan dukungan kekayaan.

Idiom “harta, tahta dan wanita” yang dulunya dikenalkan sebagai godaan terberat manusia di dunia kini sudah semakin menjadi realita khususnya “harta” yang kemudian seringkali diupayakan dengan cara-cara yang tidak biasa.  Harta bisa menjadi segala-galanya.

Sesungguhnya mendapatkan harta atau kekayaan dengan cara yang tidak biasa tidaklah selalu salah.  Bahkan untuk menjadi kaya, yang artinya punya kekayaan jauh di atas rata-rata, seseorang memang harus melakukan sesuatu yang tidak biasa.  Tentu maksudnya melakukan sesuatu yang luar biasa, termasuk dengan bekerja keras luar biasa.

Tetapi ternyata bekerja keras luar biasa bukanlah jaminan seseorang akan menjadi kaya.  Banyak contoh nyata di sekitar kita yang menunjukkan bahwa kerja keras tidak berkorelasi positif dengan kekayaan.  Situasi antagonis justru sering hadir.  Karenanya ‘janji gombal’ bisa menjadi kaya tanpa kerja keras yang dianjurkan oleh para ‘motivator sesat’ memang kontra produktif.  Saya menyebutnya “sesat” karena menjanjikan “kaya tanpa kerja keras” hanyalah ilusi yang berbahaya bagi kita dan bangsa.

Tetapi dalam waktanya, memang betul ada contoh nyata seseorang yang “kaya tanpa kerja keras”.  Dari daftar orang terkaya dunia menurut versi Forbes tahun 2015, ada 1826 orang termasuk 290 orang pendatang baru yang punya kekayaan di atas USD 1 milyar atau setara dengan lebih dari 13 triliun Rupiah.  Banyak di antara mereka yang relatif muda atau ‘orang kaya baru’ karena karya inovatif atau kerja keras luar biasanya seperti Larry Page (Google), Mark Zuckerberg (Facebook) atau Jack Ma (Alibaba).  Tetapi banyak juga, yang jumlahnya ratusan, miliarder yang ‘tiba-tiba’ kaya karena warisan.   Mereka ini relatif tanpa perlu ‘repot-repot’ bisa menjadi kaya. Bahkan kalau ditotal dengan miliarder yang mewarisi harta orang tuanya yang dilanjutkannya dengan kerja keras dan inovatif maka jumlahnya bisa mencapai separoh dari para miliarder dunia.

Apa artinya?

Tentu arti yang tersirat dan tersurat disitu adalah realita bahwa menjadi kaya karena meneruskan kekayaan orang tua adalah salah satu cara yang sah dan baik dan bahkan perlu dicontoh.  Tentu saja hal tersebut bisa terjadi kalau harta keluarga yang dipunyai oleh the-family-enterprise bisa dikelola dan ditumbuhkembangkan dengan baik.

Kalau family enterprise tidak dikelola dengan baik maka harta sebesar apapun akan menunggu waktu untuk musnah.  Kalau Anda tergolong dalam generasi pewaris keluarga kaya, apakah Anda mau kehancuran itu terjadi? Mudah-mudahan tidak.  Akan lebih baik dan setidaknya untuk menghargai kerja keras dan inovatif para orang tua kita bila harta kekayaan di family enterprise bisa terus ditumbuhkembangkan.

Kalau Anda belum tergolong dalam pewaris harta miliarder seperti Jack Ma atau Bill Gates, tentunya juga akan sangat baik kalau Anda berhasil menumbuhkan dan membesarkan perusahaan keluarga agar menjadi the-family-enterprise yang membuat anak-cucu menjadi kaya dan masuk dalam jajaran orang terkaya dunia.

Betul nggak? 

 

Jakarta, 3 Maret 2015

Jakarta, 19 Februari 2015

Dr. Handito Joewono

Chief Strategy Consultant on Family Enterprise @ ARRBEY 

www.arrbey.com