Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, keberhasilan dinikmati bersama.

Hotel di Bandung tempat kami sekeluarga berlibur dan saya menulis artikel ini berada di satu kompleks terpadu.  Disini ada dua hotel bertingkat tinggi dengan karakteristik berbeda, satunya chain hotel internasional dan satunya hotel lokal mewah, yang dipadu dengan mal dan theme park ‘ciamik’ sehingga memberi manfaat sinergi dan efisiensi.  Ketika menuliskan artikel ini sambil makan pagi di sisi resto hotel yang berada di areal terbuka, terdengar lantunan instrumentalia lagu Sunda yang mendayu dari arah mal.  Kekhasan dan kebesaran Indonesia ditampilkan tanpa ragu dan bahkan lebih maju disini, seperti ditampilkan dari disain hotel lokal yang lebih baik dan tarif lebih mahal dari yang internasional. Kehadiran jajanan pasar, batik, stand penjualan properti, dan beragam produk lokal yang tampil dominan tidak mengurangi kesan mewah mal.  Sesungguhnya citra penampilan akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana produk dan jasa dikemas dan disajikan.

Selagi saya asyik menulis artikel sambil  menikmati semilir angin pagi yang dingin segar, tiba-tiba sekitar lima meter di depan saya ada serombongan anak-anak yang tampaknya dari kampung sebelah yang berlari-lari menendang bola.  Mereka ceria, tampil sederhana memanfaatkan areal depan mal.  Tamu hotel tidak terganggu oleh kehadiran mereka, dan buat saya malah menambah inspirasi.  Di sini ada sisi hotel yang dijaga penuh privacy, tetapi ada juga yang terbuka untuk siapa saja bermain disitu.  Kemewahan dan kemajuan seharusnya memang tidak identik dengan ketertutupan.

Saya betul-betul terinspirasi dan jadi berilusi tinggal di sini.  Dalam pandangan saya, inilah miniatur wajah ekonomi Indonesia yang ideal.  Sembari membuka ruang ekonomi untuk investor, produk dan konsumen dari seluruh dunia; pada saat yang sama memberi kesempatan seluas-luasnya kepada investor, produk dan konsumen lokal untuk tampil di depan dan mendapat manfaat sebesar-besarnya.

Pemandangan dengan makna serupa juga saya nikmati malam sebelumnya ketika dinner di resto steak langganan keluarga kami di jalan Riau di Bandung.  Di sana tersedia steak berbahan baku daging lokal, Wagyu Beef maupun Sirloin Australia. Di sebelah resto steak tadi ada warung sate yang menjual beragam sate, juga aneka soto.  Seperti biasa sambil menemani keluarga makan steak, saya dan anak saya yang doyan sate menyeberang sebentar untuk beli sate dan sambil ‘ngumpet-ngumpet’ memakannya di resto steak.  Sekeluarga kami makan daging bakar.  Nikmat banget, bukan hanya karena rasa dan suasananya, tetapi juga karena menyaksikan kebersamaan resto steak dan warung sate yang tampil berdampingan dan saling bersaing tetapi keduanya tetap laris, bertahan lama dan terus maju.  Resto steak tadi buka cabang disana-sini.  Warung sate tadi menambah menunya sehingga semakin bervariasi dan konsumen setianya makin banyak.

Kedua contoh kebersamaan di atas  merupakan visualisasi ideal dari  ‘mazhab’ Gotong Royong Economics atau GREC.  Tentu saja Gotong Royong Economics yang saya tuliskan ini tidak bisa disejajarkan dengan mazhab ekonomi  Klasik atau Keynesian yang sangat kondang . Bahkan beberapa hari lalu ketika saya konsultasikan gagasan GREC pada seorang guru besar ekonomi ternyata beliau sama sekali tidak merespon.  Mungkin gagasan GREC ini dianggap sebagai ilusi, dan itu bisa jadi betul.  Bisa jadi juga wacana GREC sudah dianggap kuno sehingga tidak menarik untuk dibahas lagi dalam era perekonomian yang sudah modern.

Lalu mengapa saya mau repot-repot menuliskan gagasan Gotong Royong Economics, dan bahkan mengajak Anda ikut repot meluangkan waktu membacanya? Jawabnya, karena saya sedang risau, mungkin juga sedang galau.  Pada situasi seperti ini saya bersyukur mendapat siraman rohani dan semangat ke-Indonesia-an selama tiga hari penuh minggu lalu di dialog kebangsaan untuk para pengusaha di Lemhannas RI.  Salah satu solusi kerisauan adalah melontarkan gagasan Gotong Royong Economics.

Sekitar sepuluh meter di sisi kanan resto hotel tempat saya menulis artikel ini ada restoran asal Singapore yang menarik perhatian saya.  Tampak pegawai restoran sedang menyapu dan menyiapkan restonya agar bisa segera buka sepagi mungkin.  Pegawai-pegawai mal juga mulai berdatangan.  Tampak wajah-wajah segar dengan motivasi kerja tinggi.  Di sisi agak jauh terlihat ada petugas keamanan yang menghirup segarnya udara pagi tanpa tersirat adanya kekuatiran gangguan keamanan.  Sayup-sayup dari luar kompleks terdengar bunyi mesin kendaraan bermotor yang mulai lalu lalang meramaikan pagi.

Suasana damai dan segar seperti ini mengingatkan pada pemandangan yang sering saya lihat beberapa tahun lalu di kawasan Alpine di Eropa.  Sekarang Eropa sedang resah, karena ekonominya melemah berlama-lama.  Bahkan ketika beberapa minggu lalu menjadi nara sumber pada pertemuan OECD, saya bercanda ‘menggurui’ para pemikir Eropa dengan menyebutkan bahwa sudah waktunya Eropa  belajar dari perekonomian Indonesia terutama dalam hal entrepreneurship.   Sekarang ini banyak anak muda Indonesia yang optimis dan bersemangat tinggi memulai bisnis baru.  Itu pertanda adanya optimisme besar dari generasi muda Indonesia terhadap masa depan ekonomi negaranya.

Tidak bisa dipungkiri, ekonomi Indonesia memang sedang bertumbuh.  Hadir kelas menengah baru dengan tingkat pendapatan lebih tinggi.  Pembangunan rumah, apartemen, mal, hotel, perkantoran berlantai tinggi, jalan, pabrik, bandara, pelabuhan dan banyak lagi sekarang sedang berlangsung.  Akankah ini terus berlangsung?  Akankah perekonomian kita masih tetap bisa tumbuh? Atau akankah kita menjadi seperti banyak negara Eropa yang rakyatnya menjadi relatif susah meskipun negaranya tetap kaya?   Saya tidak mau berandai-andai dan tidak mau terbawa pada kekuatiran-kekuatiran seperti itu. Tetapi kita harus mengambil hikmah mensyukuri kemajuan, dan di saat bersamaan menata bangun ekonomi nasional di masa depan.

Ketika melanjutkan menulis artikel ini di kamar hotel di lantai 22, saya perhatikan masih banyak rumah lama yang belum tersentuh renovasi. Sebagian di antaranya ada gubuk-gubuk sederhana yang dihuni secara informal dan tidak permanen.  Mereka tidak tersentuh kemajuan, dan bisa membuat kita prihatin melihat kenyataan perbedaan yang seperti bumi dan langit ini.

Sering muncul pertanyaan apakah betul mereka yang hidup sederhana dan bekerja dengan bersimbah peluh itu tidak sejahtera?  Bisa jadi mereka yang hidupnya sederhana itu sudah merasa sejahtera, dan sebaliknya mereka yang relatif lebih berlimpah materi seringkali tidak merasa sejahtera.  Kesejahteraan memang tidak bisa diukur hanya dengan indikator kekayaan materi.  Kesejahteraan harus menyeimbangkan kecukupan jiwa dan raga.

Indonesia bagian Dunia

Kondisi perekonomian nasional kita sudah semakin identik dengan kondisi perekonomian dunia.  Wajah dunia sudah hadir paripurna di Indonesia.  Produk dan perusahaan mancanegara hadir dimana-mana, bahkan sampai di pelosok-pelosok.  Pengusaha, pelancong, pemusik, kalangan profesional dan bahkan pengangguran dari mancanegara sering kita temui dimana-mana. Pemandangan seperti ini tidak terelakkan karena kita penganut prinsip keterbukaan ekonomi. Ada dari mereka yang kaya raya, ada yang biasa-biasa saja, dan ada juga yang relatif kurang berada dan datang ke Indonesia justru untuk mencari  pekerjaan.  Kesenjangan terjadi dimana-mana, dan  itu pula yang mendorong PBB melalui sosialisasi  koefisien Gini mengupayakan pengurangan kesenjangan distribusi pedapatan.

Terjadinya peningkatan koefisien Gini di Indonesia dikuatirkan oleh banyak pihak, termasuk oleh para pemerhati luar negeri, karena bisa menjadi ‘bom waktu’ yang meledak di kemudian hari kalau tidak diantisipasi dengan baik.  Kita tentu tidak ingin hasil pertumbuhan dan kemajuan yang sedang kita nikmati kembali terkoyak oleh gangguan sosial seperti yang pernah terjadi di masa lalu.

Lalu apa yang semestinya kita lakukan untuk mengurangi kesenjangan sosial? Apakah jumah masyarakat berpenghasilan tinggi perlu dikurangi atau diturunkan tingkat kekayaannya?    Rasanya akan lebih bijak untuk menjaga momentum pembangunan yang ada dengan mendorong dan memfasilitasi percepatan pertumbuhan ekonomi di masyarakat belum berpenghasilan atau berpenghasilan rendah, dan ini sejalan dengan nilai-nilai gotong royong.

Sampai di sini saya berhenti sejenak untuk makan mi instan hangat dengan daging plus jerohan asli.  Betul-betul daging dan jerohan asli.  Sambil menunggu istri dan anak-anak yang sedang ke theme park, saya  meramu sendiri mi instan dan teringat bungkusan Soto Sulung yang saya beli semalam di warung sate sebelah resto steak.  Setelah memanasi dengan perlengkapan seadanya, saya ‘cemplungin’ soto asli tadi ke mi instan dengan kuah rasa soto.  Tentu saja “soto asli” yang saya beli semalam lebih mantap.  Dan kalau dicampur dengan mi instan rasa soto maka jadinya mi instan soto yang sebenar-benarnya dan nikmat banget sebagai hasil ‘gotong-royong’ antara soto tradisional dengan mi instan rasa soto berteknologi tinggi.

Gotong Royong dimaknai sebagai kebersamaan atau kerjasama antara dua atau lebih orang atau lembaga untuk mencapai satu tujuan tertentu.  Semangat gotong royong mengandung nilai kerukunan dan tolong menolong.  Ada lima unsur strategis gotong royong, yaitu: 1) Kemauan memberi, 2) Rasa kebersamaan dan kesetaraan, 3)  Niat bekerjasama, 4) Sukarela saling membantu, dan 5) Komitmen mencapai tujuan.

Ketika nilai gotong royong dipadukan dengan sistem ekonomi, maka hasilnya adalah sistem perekonomian yang mengedepankan terjalinnya kebersamaan dan kerjasama antar simpul-simpul perekonomian nasional dalam mencapai tujuan bersama mewujudkan masyarakat adil dan makmur.  Mudah-mudahan Anda tidak merasa hal ini sebagai sesuatu yang ‘lebay’ berlebihan atau terlalu idealis karena sesungguhnya semua hal di atas sudah kita lakukan.  Gotong Royong Economics bukanlah sesuatu yang baru, bahkan sudah mengakar di kehidupan perekonomian kita sejak lama.

Konsepsi Gotong Royong Economics memberi kesempatan seluas-luasnya bagi semua komponen pelaku ekonomi yaitu perorangan, perusahaan swasta, koperasi dan BUMN untuk mengembangkan usaha bisnisnya dengan mengedepankan kebersamaan dan kerjasama yang dipayungi oleh kesepakatan bersama dengan dukungan regulasi dan fasilitasi pemerintah.

Kebersamaan dan kerjasama dalam kerangka gagasan GREC bisa dijalankan oleh segenap unsur perekonomian melalui: 1) Kebersamaan pelaku usaha sejenis, seperti contoh kasus pengusaha resto steak dan pemilik warung sate yang membangun kebersamaan dengan tetap menjaga kompetisi sehat;  2) Kerjasama pelaku usaha yang komplemen, seperti kerjasama antara perusahaan otomatif dengan perusahaan produsen suku cadang atau produsen makanan dengan toko ritel moderen, 3) Kemitraan antar perusahaan dengan skala usaha yang berbeda, melalui program CSR dan kemitraan lain, 4) Kemitraan kewirausahaan, yang dilakukan oleh perusahaan dan pemerintah untuk menumbuhkembangkan wirausaha baru, 5) Kebersamaan pemerintah dan dunia usaha untuk mengoptimalkan regulasi dan fasilitasi pemerintah.

Dengan konsepsi seperti di atas maka GREC menghargai peranan para pelaku ekonomi seperti termaktub dalam mazhab Economy Classic tetapi tidak mengagungkannya sehingga tidak perlu ditengarai sebagai aliran yang liberal.  GREC juga menghargai dan membutuhkan peran regulasi dan fasilitasi pemerintah seperti dianjurkan oleh mazhab Keynesian.  Peran pemerintah dalam membangun infrastruktur dan mengendalikan regulasi terkait perekonomian diharapkan akan memberi kesempatan seluas-luasnya bagi pelaku ekonomi nasional untuk berperan serta dan berkembang dalam rangka membangun kesejahteraan materi dan rohani.

 

Jakarta, 20 April 2014

Dr. Handito Joewono

Chief Strategy Consultant ARRBEY

handito@arrbey.com

www.arrbey.com