Bukan musimnya lagi memasarkan barang atau jasa hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri. Manusia selalu terbatas. Kemampuannya terbatas. Jika ingin menggapai hasil ‘di atas batas’, perlu dilakukan efisiensi pengelolaan sumberdaya dan mengoptimalkan dukungan dan ‘hasil kerja’ pihak lain.
Demikian juga untuk menjual. Para penjual tidak hanya menjual melalui mulut, telinga, kaki atau tangannya sendiri. Penjual bisa menjual melalui orang lain, bahkan melalui konsumennya, yang malah bisa menjadi advokat ‘tanpa tanda jasa’ bagi penjual sukses masa kini.
Setelah berhasil melakukan penjualan, dan sukses menjual lebih banyak lagi, maka perlu pula dimengerti konsep mengenai relationship selling, agar pelanggan yang telah ada terbina untuk terus melakukan pembelian berulang.
Kadang perusahaan menghadapi situasi dimana konsumen semakin tidak loyal karena ’godaan’ dari penjual yang berasal dari perusahaan yang sedang berkompetisi ketat, maka meminta ’bantuan’ konsumen melalui Reference Selling merupakan salah satu solusinya. Reference Selling mengandalkan adanya extended sales person yang ‘mau dan mampu’ menjadi penghubung dan membantu jual secara sukarela alias tanpa imbalan apapun. Extended sales person bukanlah karyawan perusahaan yang menawarkan produk atau jasa tersebut. Ia bisa merupakan seorang konsumen yang sudah menikmati produk/jasa yang dijual, sudah merasakan manfaatnya, dan mempunyai pengetahuan produk/jasa yang memadai, sehingga mau dan mampu menjual secara sukarela.
Program Advocacy Selling dirancang untuk menghasilkan sales person yang tangguh dalam menghadapi kompetisi serta memiliki jiwa pemimpin dan dapat berpikir taktis dalam menghadapi kompetitor.
Topik bahasan: Acquisition Selling, Relationship Selling, Reference Selling.