Satu-persatu tim nasional sepakbola dunia berguguran di World Cup 2014.  Inggris dan Spanyol berada di deretan depan ‘negara sepakbola’ yang harus angkat kaki lebih awal dari Brasil.  Tentu saja ini sangat menyesakkan bagi para penggemar dan penikmat ‘MU’ Manchester United, Chelsea, Liverpool, Manchester City, Real Madrid, Atletico Madrid, atau ‘Barca’ Barcelona dan khususnya bagi orang Inggris dan Spanyol.

Pertandingan sepakbola, apalagi World Cup 2014, memang arena kompetisi yang keras dan bahkan relatif ‘kejam’.   Juara dunia Spanyol, yang statusnya masih juara bertahan  sebagai pemenang World Cup 2010, seperti terlempar begitu saja tanpa bekas.  Penikmat bola bahkan seperti melupakan kedigdayaan sang juara bertahan, dan tidak menyesalkan tereliminasinya Spanyol.  “Emang gue pikirin”, begitu kira-kira yang ada di benak mereka.  Apalagi bagi penikmat bola yang lebih menjagokan Jerman, Perancis, Uruguay atau tuan rumah Brasil.

Saat menuliskan artikel ini World Cup 2014 baru berjalan beberapa hari, dan tidak ada yang berani memastikan kesebalasan mana yang akan menjadi juara.   ‘Ramalan’ yang pasti akan terjadi adalah gugurnya lebih banyak lagi tim nasional sepakbola negara-negara hebat.  Setidaknya ada 31 dari 32 kesebelasan yang mengalami kekalahan dan tersingkir di World Cup 2014.  Lalu mengapa semua negara anggota FIFA bersedia kalah demi ‘bertaruh’ memenangkan World Cup?

Kondisi serupa, dengan arena berbeda, juga terjadi di arena kompetisi bisnis.  Ketika menjadi pembicara di seminar dalam rangka pameran Smesco Festival 2014 beberapa hari lalu, ada peserta yang eksekutif senior di salah satu perusahaan besar menanyakan atau lebih tepatnya berkonsultasi tentang cara memprovokasi diri agar berani memulai bisnis.  Sebagai eksekutif perusahaan yang biasa ‘bermain’ dengan ‘uang besar’  akan timbul kegamangan untuk memulai bisnis baru apalagi yang ‘recehan’.  Kegamangan akan berlipat ganda ketika membayangkan risiko dipersalahkan atau bahkan ‘ditertawakan’ oleh rekan sejawat dan keluarga bila sampai gagal.

Menjawab pertanyaan eksekutif perusahaan yang belum berani berbisnis sendiri tersebut, saya menceritakan pengalaman kakak kelas saya yang ‘berhasil’ memutuskan berhenti bekerja dan memulai bisnis sendiri setelah menimbang-nimbang selama bertahun-tahun.  Baru satu bulan ini teman saya tadi berhenti dari tugasnya memimpin perusahaan multinasional dan bahkan sempat dipromosikan memimpin di tingkat regional.  Beberapa hari lalu teman saya tadi ‘curhat’ menceritakan pengalamannya menjawab ‘keluhan’ istrinya karena merasa nasib mereka menjadi tidak jelas dan penghasilan tidak stabil.  Sebagai pebisnis pemula tentu tidak mudah melalui masa-masa awal berbisnis apalagi ketika belum ada pemasukan ke pundi pribadi.

Dengan ekspresi hati yang campur aduk, teman saya tadi menjawab kegalauan istrinya dengan ‘berjanji’ akan menghasilkan setidaknya setengah gaji bulanan yang selama ini diterimanya pada enam bulan lagi.  Artinya selama enam bulan ini dia ‘nggak berani janji’ karena tidak yakin akan menghasilkan sesuatu.  Tentu saja jawaban yang ‘tidak menjanjikan’ ini bisa jadi akan membuat istrinya semakin galau, karena enam bulan lagi baru boleh berharap mendapat penghasilan yang layak dan itupun juga ‘hanya’ separoh dari pendapatan yang selama ini diterima sebagai ekskutif perusahaan multinasional.

Memang tidak ada yang pasti di dunia bisnis.  Bisa berhasil dan bisa juga gagal seperti terjadi di kompetisi sepakbola.  Dan serupa dengan kejadian di kompetisi sepakbola yang lebih banyak menghasilkan kesebelasan kalah dibandingkan yang juara, demikian juga di bisnis lebih banyak yang gagal dibanding yang berhasil.  Oleh karenanya, dalam posisi sebagai pemilik atau karyawan, kita perlu lebih menghargai perusahaan yang kita kelola karena berbisnis itu memang tidak mudah.

Dengan ilustrasi seperti itu pulalah saya menjawab pertanyaan peserta seminar di Smesco Festival di atas.  Sebagai ketua tim koordinasi kewirausahaan nasional tentu saya ingin mendorong lahirnya wirausaha-wirausaha baru terutama dari kalangan generasi muda.  Tetapi sekaligus juga saya harus menyadarkan publik bahwa berbisnis itu juga tidak mudah.  Hanya sedikit yang ‘menang’ dan lebih banyak yang gagal.  Lalu apa yang mesti kita lakukan?

‘Streetwise’ Lessons

Masih di Brasil, dan kompetsi belum usai, penyerang Inggris yang tersohor Wayne Rooney menyampaikan ‘pelajaran’ yang dia dapatkan dan kemudian dimuat di berbagai media massa dengan judul “England need to be ‘streetwise’ after World Cup failure”.  Menurut Rooney, merujuk pada permainan melawan Uruguay dan juga melihat tim-tim pemenang Piala Dunia sebelumnya, seharusnya Inggris perlu bisa bermain lebih ‘kotor’.

“I look at the teams who have won this tournament and you can see that nastiness in them. I think we need to get that in us. Maybe we’re too honest…..”, lanjut Rooney untuk membela diri sekaligus menawarkan solusi dari pelajaran yang dia dapat dari ajang kompetisi besar yang sangat keras di World Cup.  Kompetisi, di sepak bola maupun di bisnis, merupakan ajang kompetisi yang tidak mudah.  Semakin tinggi level kompetisinya juga akan membuat semakin ‘jalanan’ sikap dan perilaku para pemainnya.

Setiap perusahaan besar, seperti juga timnas negara sepakbola hebat, tentulah menyiapkan strategi berkompetisi yang hebat.  Hanya saja dalam praktek pelaksanaannya, strategi membutuhkan kemauan dan keberanian melakukan ‘streetwise action’ yang sesuai namanya seringkali bernuansa “jalanan” dan bahkan ada kalanya relatif agak ‘kotor’.

Perusahaan besar, seperti juga kesebelasan besar, tentunya tidak ingin melakukan hal-hal yang ‘kotor’.  Dan perusahaan maupun kesebelasan besar semestinya tidak perlu menyiapkan ‘streetwise strategy’ yang dari awalnya diniati untuk melakukan sesuatu yang ‘kotor’.  Tetapi perusahaan, dan juga kesebelasan besar,  harus ‘berani’ untuk ‘meladeni’ pesaing yang relatif ‘kotor’ dengan menyiapkan mental dan perilaku SDM-nya agar adaptif meladeni kompetisi yang keras dan siap bertindak ‘jalanan’ juga.

Ketika Anda membaca artikel ini, bisa jadi World Cup 2014 sudah usai dan dan menghasilkan juara dunia baru.  Mudah-mudahan juaranya bukanlah kesebelasan yang banyak melakukan ‘streetwise action’.  Tetapi kalaupun bukan itu yang terjadi, tidak perlu kita menyesali diri terlalu dalam.  Setidaknya Wayne Rooney sudah menyiapkan persepsi dan mental kita. Demikian juga di bisnis, agar kita bisa mengelola kompetisi dengan baik maka kita perlu menyiapkan Strategy dan siap melakukan streetwise action bila perlu.

Jakarta, Juni 2014

Dr. Handito Joewono

Chief Strategy Consultant  ARRBEY

handito@arrbey.com

www.arrbey.com