Tentu saja judul artikel di atas tidak ada hubungannya dengan film drama romantis yang dirilis tahun ini “Endless Love” yang dibintangi oleh Shana Feste dan Joshua Safran, atau lagu dengan judul sama yang dipopulerkan oleh Lionel Richie dan Diana Ross untuk soundtrack film dengan judul sama pula pada tahun 1981.  Sesuai dengan namanya “Endless Love” memang tidak pernah berakhir, setidaknya tidak pernah berakhir untuk dipakai.

Seperti cinta yang bisa tidak pernah berakhir, demikian juga “efisiensi” merupakan ‘kata sakti’ yang tidak pernah berakhir digunakan dalam pengelolaan perusahaan sejak jaman dahulu kala dan sampai kapanpun, khususnya bagi perusahaan yang ingin terus bisa bertahan dan berdayasaing.  Artinya,  ‘kata sakti’ efisiensi tidak perlu digunakan lagi kalau ‘gairah hidup’ perusahaan dan para personilnya sudah meredup dan bersiap untuk mati.  Makna lain, personil perusahaan yang tidak mau efisien bisa ‘dicap’ dianggap mebiarkan perusahaan menuju ‘jurang maut’ kematian.

Lalu mengapa saya merasa perlu me-warning pentingnya digalakkan “efisiensi” di sepanjang hidup perusahaan?  Hal ini karena dalam pengalaman saya mendampingi klien seringkali “efisiensi” ditabukan terutama tatkala perusahaan sedang ‘seger-meger’ berlimpah prestasi cahsflow dan keuntungan.  Sepertinya ‘kata sakti’ efisiensi hanya berlaku ketika perusahaan sedang sekarat, ketika perusahaan dalam posisi harus ‘mengencangkan ikat pinggang’ karena tidak mampu lagi membayar biaya-biaya operasional perusahaan.  Bahkan ketika kata “efisiensi” dimunculkan ke internal ataupun eksternal perusahaan seringkali lalu dilabel bahwa perusahaan bersangkutan sedang dalam kondisi sulit dan bisa mati kalau tidak diselamatkan dengan cara efisiensi.  Tentu saja mitos-mitos seperti itu tidak benar.

Era boleh boros sudah berakhir puluhan tahun lalu.  Kini, seberapa besarpun ukuran perusahaan, semuanya wajib ‘mengencangkan ikat pinggang’ dan melakukan efisiensi pada semua lini.   Jaman sekarang “efisiensi” sudah menjadi ‘kata sakti’ yang menjadi fondasi strategi membangun daya saing.  Tentu saja bermodalkan efisiensi saja tidaklah cukup karena efisiensi merupakan fondasi strategi.

Efisiensi atau efficiency merupakan salah satu dari The 5 Foundation Arrows of Competitiveness Strategy bersama Creativity, Attentiveness, Professionalism dan Eagerness.   Tidak ada yang istimewa atau perlu diistimewakan dari kelima fondasi strategi di atas karena kelimanya merupakan ‘formula dasar’ keberhasilan bisnis masa kini.   Artinya kalau salah satu dari lima strategi dasar tersebut ada yang terlupakan, bisa jadi kelangsungan usaha terancam.

Cara Efisien

Kalau berkesempatan ke bandara baru Kuala Lumpur yang diberi nama KLIA2 sebagai pengganti bandara lama LCCT  yang ditujukan bagi low cost carrier dan sekarang sudah tidak difungsikan, ada poster di area check in bandara batu tersebut bertuliskan “RM6” yang lalu diberi penjelasan bahwa biaya yang dibebankan ke penumpang untuk mendapatkan layanan di bandara baru KLIA2 tersebut hanya 6 Ringgit Malaysia atau tidak lebih dari Rp 24.000.  Silahkan bandingkan dengan tarif airport tax yang berlaku di bandara-bandara kebanggaan kita di Indonesia yang relatif semakin mahal dan malah lumayan sering menaikkan tarif hanya dengan bermodalkan SK Direksi perusahaan pengelola bandara meskipun bandara semestinya dikelola dengan prinsip-prinsip sebagai bagian dari layanan public yang perlu diatur oleh pemerintah.

Kenaikan airport tax yang lumayan sering dan mudah tentu saja kontradiktif bila disbanding dengan bandara di negara lain yang berupaya lebih efisien.  Semakin mahalnya airport tax bisa memberi gambaran bagaimana fondasi dasar “efisiensi” relative kurang dijalankan.  Padahal ketidak-efisienan pengelolaan bandara bisa berimbas pada berkurangnya daya saing dunia bisnis yang memanfaatkan bandara dan bahkan perekonomian nasional.

Lalu bagaimana efisiensi dijalankan?  Setidaknya ada lima poin penting untuk menghasilkan efisiensi yaitu:

  1. Tekad

Efisiensi memang bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan.Efisiensi haruslah dimulai dari adanya kebersamaan tekad dari seluruh unsur dan tingkatan di perusahaan.Efisiensi perlu diawali dengan terbangunnya tekad pemimpin dan yang dipimpin.

  1. Perencanaan

Bandara KLIA2 sempat mengalami perubahan dan penyesuaian dari rencana awalnya sehingga melahirkan bandara yang lebih besar, lebih baik dan lebih efisien.Dengan adanya tekad efisien yang dipadu dengan perencanaan ulang keseluruhan rencana pembangunan bandara ternyata bisa menghasilkan rancangan bandara yang lebih besar dan lebih efisien.

  1. Presisi

Menjalankan rencana secara presisi sesuai dengan yang direncanakan akan mengeleminir peluang terjadinya pemborosan.Presisi akan menghasilkan efisiensi.Efisiensi memang tidak bisa hanya sekedar jadi jargon.Efisiensi merupakan implementasi dari rencana secara presisi termasuk untuk hal-hal yang relatif kecil.Dengan membiasakan diri presisi menjalankan rencana akan menghasilkan budaya dan perilaku efisien yang akan berperan meningkatkan efisiensi perusahaan, lembaga dan bahkan negara.

  1. Kecepatan

“Waktu adalah uang”, begitu kita biasanya mengungkapkan penghargaan kita pada “waktu”.Slogan “makin cepat makin baik” juga sering dilontarkan oleh Pak JK, mantan Wapres yang sekarang terpilih kembali sebagai Wapres untuk periode lima tahun mendatang, yang tidak hanya berlaku di kalangan pemerintahan tetapi juga di perusahaan dan organisasi pada umumnya.

  1. Kerjasama

KLIA2 dirancang dengan semangat bekerjasama dengan para pihak yang berkaitan dengan bandara baru tersebut.  Kerjasama dengan pengelola maskapai penerbangan yang sudah lebih dini menggunakan jargon efisien seperti AirAsia dan mitra-mitra lainnya membuat KLIA2 relatif mudah ‘tertular’ menjadi lebih efisien.  Kebiasaan mengoptimalkan sinergi dan kerjasama antara pihak-pihak yang semestinya bisa didorong sebagai mitra akan berkontribusi pada peningkatan efisiensi.

Efisiensi Nasional

Mahkamah Konstitusi pada 21 Agustus 2014 telah menolak gugatan salah satu kubu Calon Presiden terhadap Komisi Pemilihan Umum yang sekaligus melegitimasi Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia untuk periode 2014-2019.  Jokowi bersama JK menyambut keputusan MK tersebut dengan memberi keterangan pers di halaman rumah dinasnya segera setelah sidang MK dengan menganakan batik dan penerangan sekedarnya yang menggambarkan perilaku efisien.

Kesederhanaan dan keefisienan seperti ditunjukkan Jokowi-JK ini kita harapkan akan menjadi model dalam pengelolaan pemerintahan yang mereka pimpin di masa mendatang.  Efisiensi perlu didorong menjadi gerakan nasional yang tidak hanya disuarakan tetapi juga dijalankan dalam rangka mencapai efisiensi nasional menuju peningkatan daya saing berkelanjutan.  Sudah terlalu lama dunia usaha Indonesia terbebani dengan praktik-praktik pemerintahan yang relative kurang efisien sehingga ikut mempengaruhi daya saing dunia usaha Indonesia.

Pemerintah dan pelaku usaha dengan dukungan masyarakat perlu bersama-sama membangun kesadaran dan menjalankan langkah-langkah efisiensi diatas yaitu tekad, perencanaan, presisi, kecepatan dan kerjasama secara berkelanjutan dari waktu-waktu agar kita bisa mengeliminir pemborosan yang masih terjadi disana-sini.  Tentunya melalui langkah-langkah nyata berkelanjutan – the endless efficiency – akan meningkatkan daya saing Indonesia di masa mendatang.

Jakarta, 21 Agustus 2014

Dr. Handito Joewono

Chief Strategy Consultant ARRBEY

handito@arrbey.com

www.arrbey.com