To Be Sustainable

The-Family-Enterprise

 

The-Family-Enterprise terdiri atas tiga suku kata yaitu “the, family dan enterprise” yang dirangkai menjadi satu kesatuan “The-Family-Enterprise” yang didefinisikan sebagai usaha bisnis yang dikendalikan oleh satu keluarga dan mampu tumbuh berkelanjutan .  Pengendalian family enterprise yang disingkat fenter atau fent terjadi karena adanya kepemilikan dan/atau pengelolaan yang dominan.  Umumnya pengendalian fenter bersumber dari adanya kepemilikan dominan, tetapi pada kasus khusus bisa terjadi pengendalian fenter melalui pengelolaan dominan meskipun kepemilikannya tidak dominan.  Fenter biasanya dimulai dari pendirian usaha bisnis yang dipunyai dan dikelola oleh satu keluarga. Satu keluarga sebagai pengendali usaha bisnis fenter bisa berupa satu orang pendiri, satu orang pemilik dominan, beberapa orang dari satu keluarga inti atau banyak orang dari satu keluarga besar ketika perusahaan sudah berevolusi.

 

Dalam rangka menjamin keberlanjutannya, para fenter perlu diarahkan agar lebih mengedepankan aspek “family” atau “enterprise”.  Memilih satu dari kedua kata kunci tersebut merupakan keputusan filosofis strategis yang mempengaruhi masa depan fenter.  Seringkali pemilik fenter berada pada posisi dilematis dan cenderung tidak memilih salah satu dari dua opsi pengutamaan tersebut sehingga berakibat tidak jelasnya masa depan perusahaan.

 

Pada umumnya pendirian fenter  dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga pemilik.  Pada kasus tertentu, atau setidaknya pada titik waktu tertentu, usaha bisnis fenter tidak lagi dimaksudkan semata-mata untuk kesejahteraan keluarga pemilik tetapi juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan banyak pihak yang berkepentingan (stakeholders) atau masyarakat umum (social enterprise). Menjadi public company merupakan salah satu bentuk pengejawantahan perluasan perhatian fenter kepada pihak-pihak lain yang berkepentingan seperti karyawan, pemerintah dan lingkungan.

 

Dalam perjalanan hidup fenter, peran sentral family akan selalu dipertanyakan kembali, apalagi kalau perusahaan bersangkutan sudah menjadi public company. Pada dasarnya pilihan lebih mengutamakan “family” atau “enterprise” tetaplah merupakan pilihan filosofis yang perlu dirumuskan dan dihayati oleh para pemilik, pengelola, karyawan dan pihak-pihak terkait sehingga kalau kelak dikemudian hari terjadi konflik dalam keluarga atau perusahaan maka pilihan filosofis tersebut bisa digunakan sebagai pijakan strategis untuk mengambil keputusan.

 

Kisah runtuhnya perusahaan produsen makanan dan minuman Yeo Hiap Seng (YHS)  yang didirikan di Fujian-China dan kemudian bermarkas di Singapura bisa digunakan sebagai contoh bagaimana filosofi pengelolaan fenter menjadi hal yang penting dan mendasar.  Demikian pula keberlanjutan pertumbuhan Sumitomo sejak didirikan di Kyoto pada abad ke 17 yang memiliki lebih 20 bisnis inti yang terdiri dari perbankan, shipbuilding, elektronik, semen, perkayuan, pertambangan, dan kimia.  Atau kisah Faber Castell dari Jerman yang didirikan oleh seorang tukang kayu pada tahun 1761 yang terus konsisten memproduksi lebih dari 2.000 jenis produk.  McGraw-Hill yang terkenal sebagai penerbit buku-buku cetak terbesar di dunia maupun perusahaan jenas Levi Straus merupakan contoh fenter Amerika yang berhasil.

 

Fenter memiliki peran sangat besar pada perekonomian dunia termasuk di negara-negara modern seperti Amerika Serikat, Korea, Jepang dll yang sebagian besar perusahaan disana juga merupakan fenter. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Family Firm Institute, Inc pada tahun 2014, peran fenter pada perekonomian nasional di Amerika Serikat mencapai 80-90%, di Jepang 90%, di China 85%, di Spanyol 75% dan di Italia bahkan 93%.

 

Kontribusi fenter pada perekonomian Indonesia lebih dari 70% yang menggambarkan peran multinasional dan BUMN yang juga penting dalam perekonomian nasional Indonesia. Perusahaan-perusahaan besar dalam kelompok usaha Salim, Jarum, Lippo, Sinar Mas atau Maspion merupakan contoh-contoh family enterprise yang terus tumbuh berkelanjutan lintas generasi di Indonesia.

 

Memang tidak semua fenter  mampu tumbuh berkelanjutan.  Banyak juga, dan bahkan sebagian besar fenter  gugur di awal berdiri atau perjalan hidupnya.  Sampai di titik ini saya jadi teringat kisah sedih di malam pergantian tahun 2014 baru lalu ketika tiga dari empat tikus hamster peliharaan anak-anak saya tewas diterkam tikus.  Para tikus hitam ‘beneran’ yang sedang kelaparan masuk dari luar rumah dan memangsa tikus hamster Gunter, Bimo dan Poppy yang berwarna putih bersih.

 

Masih ‘beruntung’ tersisa “SiBen” yang merupakan generasi pertama hamster  di rumah kami dan selama ini paling disayang oleh anak-anak saya.  Rupa-rupanya SiBen yang warna bulunya kecoklatan seperti warna serpihan kayu yang menjadi alas tinggal para hamster berhasil ‘mengelabui’ tikus yang lapar.  SiBen punya kebiasaan masuk ke dalam serpihan kayu yang dijadikannya ‘selimut’ sehingga terlewat diterkam tikus hitam yang sedang kelaparan.

 

Kini anak-anak saya semakin sayang pada hamster tunggal SiBen, termasuk anak saya yang tadinya kurang mempedulikan hamster di rumah.  Bahkan untuk menghindarkannya dari terkaman tikus yang bisa tiba-tiba muncul kembali, secara bergiliran anak-anak saya memasukkan SiBen dan kandangnya ke kamar tidur.  Tentu saja ini hanya sementara waktu karena tidak baik untuk kesehatan kamar dan juga kesehatan SiBen yang belum terbiasa di lingkungan ber-AC. Dan kalaupun SiBen nantinya menjadi terbiasa dengan kamar ber-AC juga akan membuatnya tidak baik karena kurang tahan perubahan cuaca dan bisa membuatnya jadi ‘anak malas’ dan semakin manja.

 

Tentu saja peningkatan perhatian pada SiBen akan membuatnya terjaga lebih baik dan mengurangi resiko sakit, mati atau tewas diterkam musuh karena lebih banyak yang memperhatikannya. Masih diperlukan beberapa langkah lanjutan untuk hamster SiBen, diantaranya mencarikan pasangan hidup buat SiBen agar bisa beranak-cucu. Untuk maksud tersebut SiBen perlu segera dikembalikan ke lingkungan normal dengan suhu udara biasa yang tidak terkondisi khusus.

 

Perhatian lebih besar untuk hamster SiBen sekaligus juga memunculkan pertanyaan besar apakah kami sekeluarga perlu ‘repot-repot’ melakukan hal tersebut?  Bukankah SiBen hanya sekedar ‘entertainment’, kalau meminjam istilah anak ragil saya, yang sifatnya untuk memberi hiburan? Apalagi bisa terjadi ‘gara-gara’ terlalu memperhatikan SiBen ada kalanya anak-anak saya saling ‘berantem’. Perlukah keluarga sampai berkonflik ‘hanya’ gara-gara seekor hamster? Manakah lebih penting, hamster atau keluarga?

 

Bila fenomena SiBen ini kita kaitkan dengan pilihan filosofis The-Family-Enterprise yang sudah diulas sebelumnya, keluarga pemilik fenter perlu memilih untuk lebih mengedepankan “family” atau “enterprise”.  Dan keduanya pilihan yang sah dan baik.  Ada keluarga pemilik fenter yang terus menumbuhkembangkan perusahaan untuk memberi manfaat berkelanjutan bagi keluarga dan para stakeholders lain, tetapi ada juga pemilik fenter yang lebih memilih meninggalkan usaha bisnis untuk dilanjutkan pengendalian kepemilikan dan/atau pengelolaannya oleh pihak lain.  Ada contoh-contoh kasus keluarga pemilik yang melepaskan semua atau hampir semua saham fenter dan kemudian memanfaatkan uang hasil penjualan saham untuk melakukan aktivitas social atau bisnis di bidang lain.

 

Dan apapun opsi filosofis fenter yang dipilih, aspek “family” dan “enterprise” ditambah “the” yang berperan memberi penekanan, “The-Family-Enterprise” merupakan satu kesatuan utuh. The-Family-Enterprise adalah para fenter yang mampu tumbuh keberlanjutan dan menjaga kebesarannya.  Oleh karenanya hanya sebagian kecil fenter  yang dalam pandangan saya layak dikategorikan sebagai The-Family Enterprise.

 

Sustainable Growth

 

Tumbuh berkelanjutan merupakan syarat utama bagi fenter untuk bisa dikategorikan sebagai The-Family Enterprise.  Keberlanjutan merupakan salah satu tantangan utama dalam pengelolaan usaha bisnis yang dikendalikan oleh keluarga.  Idiom bahwa “generasi pertama mendirikan, generasi kedua membesarkan, dan generasi ketiga menghancurkan” seolah menjadi ‘momok’ dalam pengelolaan family enterprise.

 

Tentu saja tidak semua, dan juga tidak kita harapkan, bahwa fenter akan berakhir dengan kehancuran dan ketidakberlanjutan.  Family enterprise yang didirikan dan dibesarkan dengan perjuangan dan kerja keras para pendiri punya inner-competitiveness yang relatif lebih besar sehingga by nature lebih mampu bertahan dan bersaing.  Selanjutnya ‘tinggal’ mengemas dan mengelolanya agar para fenter tersebut bisa terus tumbuh berkelanjutan.

 

Memang tidak banyak, setidaknya hanya sebagian kecil fenter yang bisa tumbuh berkelanjutan.  Artinya sebagian besar fenter akan mati dan tidak berlanjut.  Ilustrasi tiga dari empat tikus hamster keluarga di atas yang tewas diterkam tikus hitam bisa digunakan sebagai analogi bahwa kompetisi bisnis selalu mengancam keberlangsungan fenter.  Boleh dikata tiga atau lebih dari empat fenter akan mati dalam proses pendirian dan perjalanan hidupnya.

 

The 5 Arrows of Family Enterprise Development Strategy bisa digunakan sebagai referensi untuk menumbuhkembangkan fenter.  The 5 Arrows of Family Enterprise Development Strategy yang terdiri dari 1) Understanding the family enterprise, 2) Developing family enterprise strategic planning, 3) Managing family enterprise strategic aspects, 4) Building transparency and fairness, dan 5) Sustaining the family enterprise; dalam operasional sehari-harinya diterjemahkan menjadi The 5+5+5 Famterprise Principals sebagai berikut:

 

  1. Setiap unit family enterprise selalu unik
  2. Way of journey family enterprise sejalan dengan way of life keluarga
  3. Family enterprise merupakan entitas normal
  4. Konflik merupakan pemicu masalah dan sekaligus pemacu prestasi
  5. Modal merupakan pemersatu dan bukan pemisah
  6. Merancang pertumbuhan usaha memotivasi perbaikan
  7. Strategi jangka panjang haruslah lintas generasi
  8. Inovasi memantik daya saing family enterprise
  9. Pengendalian proses dan kinerja family enterprise berjalan seiringan
  10. Family enterprise perlu terus tumbuh berkelanjutan
  11. Fairness menciptakan kebersamaan dan kekompakan
  12. Struktur organisasi dan distribusi wewenang perlu disinergikan
  13. Jenjang karir menggairahkan pengelola dari unsur internal dan eksternal
  14. Transparansi meningkatkan harmoni pengelola dan keluarga
  15. Keharmonisan keluarga merupakan tujuan dan segala-galanya.

 

Prinsip terakhir dari The 5+5+5 Famterprise Principals di atas merupakan salah satu keunikan dari family enterprise. Apapun filosofi dasar pengelolaan fenter yang dipilih, mengutamakan family atau enterprise, tetap saja keharmonisan keluarga merupakan tujuan dan segala-galanya.

 

Kisah hamster SiBen ternyata masih berlanjut. Setelah ‘berpulangnya’ saudara-saudara SiBen beberapa hari lalu, kini SiBen tampak lebih gemuk. Tidak jelas apakah “lebih gemuk” menggambarkan SiBen sejahtera atau sebaliknya. Setidaknya anak saya yang ragil tidak bisa menjawab dengan jelas apakah SiBen sekarang ini lebih happy atau tidak. Bisa jadi lebih gemuknya SiBen karena di tubuhnya menyimpan banyak lemak akibat SiBen kurang gerak dan lebih sering tinggal di ruangan ber-AC yang menjadikannya lebih banyak tidur karena lingkungan lebih nyaman. Proses menganak-pinak-kan SiBen juga belum sempat dilakukan karena anak-anak saya sudah ‘mulai lupa’ setelah kembali sibuk sekolah selepas libur beberapa minggu sebelumnya.

 

Kami sekeluarga masih tetap ingin menjaga dan melanggengkan keberadaan hamster keluarga yang diharapkan hadir dari anak-cucu SiBen. Tetapi tetap saja hamster-hamster tersebut merupakan ‘entertainment’ seperti kata anak ragil saya. Artinya, hamster dan keberlanjutannya merupakan hal yang perlu dikelola dengan sebaik-baiknya, tetapi tetap saja keluarga adalah segala-galanya. Untuk apa keluarga ‘berantem’ hanya gara-gara ‘ngurusin’ hamster.

 

Mudah-mudahan itu pula prinsip pengelolaan fenter di keluarga kita. Family enterprise harus tumbuh berkelanjutan, tetapi keharmonisan keluarga tetap adalah tujuan, segala-galanya dan yang abadi. Tentu saja, pilihan tetap terserah Anda.